Totalitas Hidup Seorang Muslim

Posted at March 9, 2012 by Heri Setiawan on category ad-dien al islam

Oleh Al-Ustadz DR. Ahzami Sami’un Jazuli, MA, LC

totalitas dalam islam“Dan sesungguhnya jika kamu mendatangkan kepada orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al-Kitab (Taurat dan Injil), semua ayat (keterangan), mereka tidak akan mengikuti kiblatmu, dan kamu pun tidak akan mengikuti kiblat mereka, dan sebagian dari mereka pun tidak mengikuti kiblat sebagianyang lain. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti keinginan mereka setelah datang ilmu kepadamu, sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk golongan orang-orang yang zalim”.(QS. 2:145)

Ayat ini menjelaskan tentang pengingkaran ahli kitab untuk mengikuti kiblatnya kaum muslimin. Kalau kita perhatikan pada ayat lain, sebenarnya Ahli Kitab ini jelas-jelas mengenal Rasulillah SAW. Allah SWT berfirman :
“Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al-Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendirir. Dan sesungguhnya sebagian di antara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui.” (QS. 2:146).

Ayat 146 dari Qs. Al-Baqoroh menggambarkan bahwa pengenalan Ahli Kitab kepada Rasulullah Muhammad SAW itu sebagaimana mereka mengenal anaknya sendiri. Jadi sangat kenal. Namun demikian, ketika Rasulullah Muhammad SAW di utus kepada seluruh manusia, mereka seolah-olah tidak tahu. Mereka mengingkarinya. Mereka tidak mau mengikutinya.

Ahli Kitab mengetahui tentang kebenaran kerasulan Muhammad SAW, bahwa beliau benar-benar utusan Allah. Tetapi mereka tidak mengakui kiblatnya,tidak mengakui kebenarannya, tidak mengikuti jalan hidupnya, seperti yang tercantum pada awal ayat ini :
“Dan sesungguhnya jika kamu mendatangkan kepada orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al-Kitab (Taurat dan Injil), semua ayat (keterangan), mereka tidak akan mengikuti kiblatmu…”

Mengapa Ahli kitab mengingkari kerasulan Muhammad padahal mereka mengetahui bahwa perilakunya itu salah ? Mereka melakukan itu karena tidak bisa lepas dari hawa nafsunya (‘adamu tajrid ‘anil hawa). Ketika totalitas hidupnya tidak diserahkan kepada Allah, walaupun dia tahu tentang suatu kebenaran,dia tidak mau mengikutinya. Ahli kitab (Yahudi dan Nasrani) ini tahu bahwa Rasulullah SAW itu utusan Allah, jelas dalam kitab mereka diterangkan hal tersebut.

Mengukur seseorang dari pengetahuannya semata tidak cukup. Buktinya adalah Yahudi dan Nasrani tahu dan mengenal tentang Muhammad, tetapi mereka tidak beriman kepada Rasulullah SAW. Keimanan mereka kepada Allah patut diragukan. Imannya kepada Allah tidak total sehingga ketika Allah menentukan Muhammad yang dipilih sebagai Rasulnya, mereka tidak bisa menerima. Mereka tidak bisa melepaskan dirinya dari hawa nafsunya, dari kepentingannya. Hawa nafsu mereka menginginkan agar Allah menunjuk Rasul dari golongannya. Mereka hanya mentaati Allah jika sesuai dengan hawa nafsunya.

Sikap Ahli kitab ini merupakan pelajaran bagi kita untuk senantiasa mengingatkan diri kita dan masyarakat kita agar tidak menjadikan tingginya ilmu yang dimiliki oleh seseorang sebagai standar ketinggian derajat seseorang atau suatu kaum. Fenomena ahli kitab ini adalah fenomena tentang lapisan masyarakat yang terpelajar yang melakukan pelanggaran dan penyimpangan. Banyak ummat Islam yang tahu bahwa sesuatu itu halal, atau haram, tetapi mereka melanggarnya. Mereka masih berbuat maksiyat. Mereka belum bisa melepaskan seluruh pengaruh hawa nafsunya.

Bukankah orang yang minum minuman keras itu pada umumnya mereka tahu kalau minum minuman keras itu haram? Mereka tahu. Tetapi mereka melanggarnya.Hawa nafsu telah mendominasi dirinya. Orang yang korupsi atau kolusi, bukankah mereka terpelajar yang mengetahui bahwa korupsi dan kolusi itu termasuk kema’siyatan ?. Ketika mereka masih jadi pelajar atau mahasiswa mungkin ikut dalam demonstrasi anti korupsi atau kolusi. Tetapi ketika dia yang berkesempatan untuk melakukan korupsi dan kolusi, mereka melakukannya juga. Ini semua bukan berarti dia tidak tahu yang halal dan yang haram, akan tetapi hawa nafsu dan kepentingan berperan sangat dominan pada dirinya. Berdakwah kepada orang-orang yang sudah pernah belajar Islam kadang-kadang lebih sulit daripada yang sama sekali belum pernah belajar Islam. Orang yang pernah belajar Islam, baik di Pesantren, di Perguruan Tinggi, atau di tempat lain, mereka merasa seolah-olah ilmu yang didapatkannya telah cukup baginya untuk selamat dari adzab Allah. Kalau diingatkan ketika dia berbuat ma’siyat, merasa lebih pintar daripada yang mendakwahi. Orang-orang yang mempunyai pandangan semacam ini sulit untuk menerima kebenaran yang dikemukakan orang lain.

perjuangan islamKetika menghadapi orang yang demikian, kita disuruh berjidal atau berdebat seperti kata Allah dalam surat An-Nahl ayat 125: “Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Rabbmu Dia-lah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk” (Qs.An-Nahl 125)

Ahli tafsir mengatakan bahwa berdakwah dengan wajadilhum billati hiya ahsan itu ditujukan kepada ahli kitab dan orang-orang yang berilmu tetapi mereka tidak mau mengikuti kebenaran Islam. Kenapa kita tidak disuruh menda’wahi mereka dengan nasehat? Karena nasehat sangat tepat jika ditujukan kepada orang yang tidak tahu. Memang benar bahwa nasehat itu untuk semua manusia, tetapi nasehat akan mudah diterima bagi orang yang memang tidak tahu. Bagi orang yang sudah tahu tentang sesuatu tetapi dia tidak mau mengamalkan kebenaran yang diketahuinya, kita harus berda’wah kepadanya dengan berjidal dengan cara yang ahsan.

Ketika Ahli Kitab tidak mau mengikuti Rasulullah SAW, apa sikap beliau ? Apa beliau harus mengalah ? Ternyata tidak. Allah mengatakan (dan tidaklah kamu mengikuti kiblat mereka).
Dalam ilmu lughoh, kalimat itu disebut jumlatul ismiyat yang bermakna tetap eksis dan kontinyu. Ini mengandung arti bahwa dalam hal apapun jangan sekali-kali kita mengikuti kiblatnya Ahli Kitab. Dan ini berlaku untuk selama-lamanya.
Pesan Allah ini pada realitanya belum kita laksanakan dengan baik. Sistem ekonomi kita meniru mereka, sistem politik juga meniru mereka dan sistem pendidikan juga demikian. Sisi yang lainnya dalam hidup kita juga banyak meniru mereka.

Dalam bidang pendidikan misalnya, sistem pendidikan kita banyak diwarnai dengan ikthilat. Padahal jika kita bicara tentang sistem pendidikan Islam yang diterapkan dari jaman Rasul sampai jaman generasi yang menjadikan Islam sebagai petunjuk hidupnya, tidak ada sekolah yang memperbolehkan ikhtilat, yang mencampurkan antara laki-laki dan perempuan. Ada yang mengatakan bahwa itu dilakukan dengan alasan darurat. Mereka berpikiran jika antara laki-laki dan perempuan dipisah, nanti gurunya banyak, lalu menggajinya dari mana ? Padahal sesuatu yang darurat itu ada batasnya. Tidak bisa sampai mati masih menggunakan alasan darurat. Dalam aturan Islam, ketika kita diperbolehkan makan bangkai karena kita lapar, setelah kita makan dan sudah cukup menghilangkan lapar, kita tidak diperbolehkan meneruskan makan dengan alasan darurat.
Ummat Islam yang tidak memahami ayat semacam ini sangat mudah terjebak mengikuti cara hidup Ahli Kitab. Padahal jelas-jelas Allah mengatakan (janganlah kalian mengikuti kiblat mereka). Penegasan Allah ini tidak kebetulan. Bukan berarti kalau suatu saat kita menganggap bahwa kondisinya lain, kita boleh mengikuti mereka. Tidak ada begitu.
Sebaliknya Allah mengatakan (sebagian mereka tidak mau mengikuti sebagian yang lain). Yahudi dan Nasrani pada dasarnya selalu ribut, hanya kita saja yang tidak mengetahui. Sebenarnya kepentingan-kepentingan Yahudi dan Nasrani sering bertabrakan. Dalam melakukan lobi-lobi di Amerika misalnya, mereka selalu “cakar-cakaran”. Demikian pula dalam banyak hal lainnya.Tetapi ketika menghadapi Islam mereka bersatu.

Selanjutnya Allah mengatakan :
“…Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti keinginan mereka setelah datang ilmu kepadamu yaitu Al-Qur’an, Al-Islam, sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk golongan orang-orang yang zalim…”
Rasulullah SAW saja kalau mengikuti selera Ahli Kitab termasuk orang yang dholim, apalagi kita yang tidak ada hubungan darah dengan Rasulullah SAW. Dalam Islam tidak ada basa-basi. Siapapun yang menentang ajaran Allah, dia adalah dholim. Ini pernyataan yang tegas dari Allah yang harus kita taati. Kita jangan suka berstrategi untuk menyiasati aturan Allah ini. Kita tidak usah takut manusia akan lari jika kita mentaati aturan Allah ini. Jangan sampai kita mengatakan “Pak, mereka tidak mau ikut kalau kita begitu….

Pak, kalau kita tidak begini nanti tidak diterima masyarakat”. Dakwah ini harus dilakukan dengan mengikuti jalan Allah, bukan untuk mengikuti selera masyarakat. Memang boleh kita mempertimbangkan sesuatu untuk kemashlahatan, sepanjang tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip yang digariskan oleh Allah SWT. Kita sekarang ini terlalu banyak membuat kebijakan-kebijakan tanpa memperhatikan dasar-dasar ‘aqidah yang digariskan Allah. Mungkin kita khawatir jika selalu berpegang pada prinsip yang digariskan Allah malah sulit diterima masyarakat. Kekhawatiran ini tidak berdasar. Rasulullah SAW juga ketika berdakwah, awalnya memang tidak diterima masyarakat. Tetapi beliau tetap berpegang pada prinsip yang digariskan Allah. Dan hasil yang dicapai Rasulullah dengan izin Allah sedemikian menakjubkan.

Ini menegaskan agar nilai yang kita anut harus tetap. Nilai yang kita pegang itu adalah ajaran Allah SWT, bukan selera masyarakat. Ketika Allah menurunkan jumlatul ismiyat ini tidak kebetulan, tetapi Allah memilih dengan hikmah, supaya ummat Islam jangan sedikitpun mengikuti jalan yang dibentangkan oleh Yahudi dan Nasrani. Ketika Umar bin Khothob r.a menjadi kholifah, beliau berusaha merapikan masalah ketatanegaraan (bukan berarti sebelumnya tidak rapi, tetapi sebelumnya belum sempurna sehingga perlu disempurnakan). Untuk itu beliau membutuhkan orang-orang yang ahli dalam tata negara. Ketika itu Gubernurnya menawarkan seorang kristen yang ahli tata negara untuk bekerja di iddaroh (di kantor kenegaraan). Apa kata Umar bin Khothob ? Apa beliau mengatakan “Wah Anda baik, Anda betul-betul bisa mencari orang yang kita butuhkan, karena pada tahun-tahun ini kita butuh ahli semacam ini”. Ternyata Umar tidak mengatakan demikian tetapi beliau malah berkata: “Untuk apa kita menerima orang Kristen, apakah kalau orang kristen itu mati, kita tidak lagi bekerja ? Saya tidak mau menerima semua ini”. Begitu kata Umar. Padahal orang kristen itu benar-benar ahli dalam bidang yang sedang dibutuhkan negara. Itupun Umar bin Khothob menolaknya. Betapa Umar betul-betul memahami dan mengamalkan isi ayat ini. Tidak mungkin orang-orang kafir itu bekerja tanpa pamrih. Pasti dia mempunyai tujuan-tujuan tertentu. Mana ada orang kafir yang ketika bekerja dia tidak mencari posisi untuk mendakwahkan agamanya ?

Thobi’atul ma’rokat (karakter peperangan) antara haq dan bathil itu tidak pernah selesai. Ketika al-haq eksis, al-bathil tidak akan merasa aman, merasa terganggu. Mereka pasti bergerak. Jika ada orang beriman yang tidak berda’wah, berarti dia tidak mengetahui thobi’atul haq (hakekat kebenaran). Cacing yang hidup di tempat kotor, jika kita pegang untuk kita pindah pada air yang bersih, dia menolak. Ketika kita masukkan cacing tersebut ke dalam air kolam yang bersih dia tidak betah, karena sudah biasa di tempat yang kotor. Kehidupan cacing ini contoh bagi kita. Kita mengajak mereka (orang-orang yang kotor itu) supaya dia bersih dari dosa, supaya dia baik. Tetapi ketika kita tarik kepada sesuatu yang bersih, dia bergerak, dia menggeliat dan melawan. Dia lebih suka tetap mempertahankan eksistensi kebathilannya. Inilah pelajaran berharga dari Allah yang harus kita perhatikan.




Tulisan terkait Totalitas Hidup Seorang Muslim