Mereka Semua Saudara-Saudaraku

Posted at March 25, 2011 by Heri Setiawan on category ajar nulis

persaudaraan islam

Ini hanyalah sebuah perumpamaan. Perumpamaan dari sebuah peristiwa yang sedang terjadi. Apakah menyakitkan..? Ya..! sangat menyakitkan jika didengar, sakitnyapun menusuk sampai sumsum tulang. Tersirat sebuah kalimat dalam benak yang hampa, “Hanya seperti inikah akhir dari perjalanan panjang..?”

____________________
Alkisah, ada 5 saudara kandung, masing-masing sudah tinggal sendiri-sendiri walaupun rumahnya tidak berjauhan. Kakak yang paling tua bernama Yudi. Hendri adalah anak kedua, Andi adalah anak ketiga. Saya sendiri adalah anak keempat dan mempunyai adik bernama Imam.

Pada suatu saat dua kakak saya yang paling tua (mas Yudi dan mas Hendri) ribut-ribut, sampai-sampai para tetangga tahu kalo mereka sedang ada masalah. Tidak hanya itu, para tetanggapun juga tahu apa masalahnya. Oh, ternyata mas Yudi sedang marah dengan mas Hendri. Bahkan, mas Yudi pun sampai melaporkan mas Hendri ke polisi.

Mas Andi (saudara ke-3) mendukung mas Yudi, entah kenapa beliau seperti itu tapi memang mas Andi cukup dekat dengan mas Yudi. Sedangkan adik saya, Imam (saudara ke-5), sangat dekat dengan mas Hendri, maklumlah, mas Hendri ini dulunya sering membantu Imam, membantu dari sejak kuliah sampai Imam mempunyai mandiri dengan mempunyai usaha sendiri.

Lalu, apa sih yang dipermasalahkan..? Ternyata dari apa yang saya dengar, mas Yudi menuduh mas Hendri pengedar narkoba. Mas Yudi mengatakan kalo dia punya bukti dan saksi. Mas Yudi mengaku sudah berusaha mengingatkan mas Hendri untuk menghentikan perbuatan itu karena itu perbuatan merusak dan melanggar hukum tapi kata mas Yudi, mas Hendri tetap saja melakukan aktifitas itu. Akhirnya kamipun terpecah, mas Yudi + mas Andi berseteru dengan mas Hendri + dik Imam.

Perseteruan masih berlangsung, mas Yudi sudah melaporkan ke polisi tapi polisi belum mulai memprosesnya. Suatu saat ada tetangga (seorang ibu-ibu) yang kebetulan mendengar masalah ini menanyakan kepada saya,

“Gimana mas kasus kakak mas yang kemarin kok sampai ribut-ribut..?”

Saya pun menjawab, “Maaf bu, saya juga kurang tahu karena setahu saya ndak ada masalah apa-apa. Tahu-tahu ya muncul begitu saja.”

Ibu itu bertanya lagi, ” Terus, yang benar yang mana..? apa benar Hendri itu pengedar narkoba..?”
Saya jawab, “Kalo saya sih menunggu dan mengikuti hasilnya saja bu. Saya tidak punya bukti kalo mas Hendri mengedarkan narkoba, mas Yudi juga belum memberikan buktinya kepada saya, dia cuman memberikan buktinya kepada kepolisian. Jadi saya juga ndak bisa mengatakan kalo mas Hendri salah.”

Ibu itu masih bersemangat tanya, “Lha terus, kok ndak diselesaikan didalam dulu saja toh..?, khan sesama saudara kandung..?” Sayapun cuman dengan enteng menjawab, “Ya, mungkin mas Yudi sudah memberikan nasehat kepada mas Hendri tapi mas Hendri tidak mau tahu bu, mas Yudi sudah gak tahan, jadinya mas Yudi lapor kepolisian. Ato mungkin juga karena mas Yudi juga khawatir kalo mas Hendri mengajak dik Imam atopun saya atopun tetangganya mengikuti jejaknya menjadi pengedar narkoba.”

Ibu itu melanjutkan, “Oh begitu ya..? ya semoga saja masalahnya cepat selesai dan tidak berlarut-larut ya mas..” Saya jawab, “Terimakasih ya bu, do’akan kami supaya selalu dalam kebaikan.., sebenarnya saya juga malu kepada Bapak/Ibu kami yang sudah meninggal karena masalah ini.”
_______________________

Kalau kalian ada pada posisi saya, lalu yang mana yang akan kalian ikuti dan bagaimana sikap kalian..?




Tulisan terkait Mereka Semua Saudara-Saudaraku